Pancasila Sumber Nilai Moral Berbangsa dan Norma Hukum Bernegara

oleh -28 views

Oleh : Bangun Sitohang

Pancasila secara harfiah setiap pihak pasti mudah untuk menyebutnya, namun belum tentu mudah memahaminya. Untuk memahami nilai-nilai Pancasila bahwa seseorang warganegara tidak harus bergelar banyak atau punya status sosial yang tinggi serta jabatan tinggi melainkan cukup ada kemauan dan kesadaran diri untuk menjalankannya dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Alasan ini penting diketahui agar kita WNI selalu membiasakan diri menjadikan nilai Pancasila dan Norma Hukum UUD 1945 sebagai sikap dan perilaku berbangsa dan bernegara. Itulah yang saya pahami makna Pancasila dalam tindakan sebagaimana tema peringatan tanggal 1 Juni 2020 hari lahirnya sebutan Pancasila di bumi nusantara yang dicetuskan oleh Bung Karno.

Mengapa diperlukan makna Pancasila dalam tindakan ? Karena Pancasila itu secara historis adalah kumpulan nilai-nilai luhur sebagai cita-cita berbangsa dan akan terwujud melalui tindakan nyata dalam relasi kehidupan berbangsa.

Secara sosiologis bahwa tindakan dimaksudkan adalah sikap orang Indonesia yang telah terwariskan sejak zaman perjuangan sampai kemerdekaan Indonesia, dalam hal ini kita ambil contoh nyata diantaranya tentang sikap gotong-royong dalam musim panen di desa.

Jika kita gali secara konsep nilainya, bahwa prinsip gotong royong mengajarkan bahwa sejatinya tindakan selalu diambil melalui musyawarah mufakat dan tidak ada unsur pemaksaan kehendak. Gambaran ini dapat kita pelajari dari berbagai literatur terkait musim panen di desa-desa.

Para leluhur kita selalu terlebih dahulu bermusyawah untuk menentukan lahan petani mana yang duluan dikerjakan bersama-sama. Ini artinya meskipun kepala desa memiliki hak untuk menentukan pengambilan keputusan tetapi tetap mengajak para pemilik lahan pertanian untuk menentukan pekerjaan dengan hasil kesepakatan bersama (musyawarah). Ini contoh sikap dalam tindakan moral yang menghargai nilai kebersamaan, senasib sepenanggungan, toleransi, dan tindakan yang mementingkan hak orang banyak di atas kepentingan pribadinya.

Dari contoh nilai luhur yang digambarkan dari tindakan melalui gotong royong tersebut, jika kita kaitkan dengan upaya menghadapi tantangan dan persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara, telah diingatkan juga penekanan kesatuan bangsa pada kalimat pembukaan UUD 1945….maka KAMI bangsa Indonesia…, inilah gambaran kebersamaan nilai juang bangsa ( tidak ada penonjolan individu atau kelompok . Dan akhir alenia, sebagai bangsa yang merdeka, bersatu yang berdaulat tetap didasarkan nilai Pancasila ( bunyi lima sila tertuang jelas dan tegas pada pembukaan alenia ke IV UUD 1945 ). Ini gambaran bahwa nilai Pancasila itu Haluan negara.

Sebagai haluan negara, Pancasila adalah nilai dasar yang berada di ujung ( sumber norma ). Sebagai nilai dasar , perlu dipertegas secara operasional untuk menjadi norma yang menuntun sikap dan perilaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka Pancasila dinormakan dalam UUD 1945.

Itulah sebabnya ada pernyataan sebelumya pada pembukaan…kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu disusun dalam suatu UUD negara Indonesia ( dinormakan dalam pasal negara berdasar hukum ). Artinya kita sudah diingatkan para leluhur bahwa dalam konsep bernegara, setiap WNI harus memiliki tindakan konstitusional.

Dalam konsep tindakan konstitusional, setiap sikap dan perilaku kita tetap mengacu pada norma hukum UUD 1945, konkretnya setiap produk hukum positip yang akan dibuat harus tetap mendasar pada perintah konstitusi bukan dibuat karena kepentingan kelompok atau pribadi. Dalam konteks nilai, Pancasila telah tertuang secara operasional dalam pasal-pasal UUD 1945. Maka sebagai Haluan negara posisi Pancasila derajatnya ada di puncak ( sumber dari segala sumber hukum ) dalam “prinsip berbangsa dan bernegara”.

Dalam rangka peringatan hari lahirnya sebutan Pancasila, apa yang perlu kita maknai dari tindakan konsitusional dan konsep gorong-royong dalam membangun Indonesia Maju ? Secara sederhana bahwa kemajuan satu bangsa dalam berbagai literasi yang saya pernah baca, sangat ditentukan oleh “kapasitas intelektual” masyarakatnya.

Kembali pada konsep pembukaan UUD 1945, terdapat 4 kata kunci tujuan bernegara yaitu : melindungi , memajukan , mencerdaskan dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Sejatinya tujuan bernegara ini sudah mensyaratkan jika untuk menuju Indonesia maju, kita harus mencerdaskan kehidupan berbangsa. Bangsa yang cerdas pasti punya daya nalar yang baik, naluri yang baik dan cover nurani yang baik juga. Orang yang punya nurani pasti orang yang relijius , orang yang punya naluri pasti punya relasi sosial sehingga siap bergotong royong ( ingin bersatu ) dan selanjutnya orang yang nalarnya baik akan berpikir untuk meningkatkan hidup yang maju dan sejahtera ( yang berkeadilan dan berprikemanusiaan ).

Dari konsep tindakan konstitusional tersebut jika dikaitkan dengan tujuan berbangsa dan bernegara, maka majunya satu bangsa sudah diingatkan para leluhur kita , sangat ditentukan kapasitas intelektual dan konsistensi antara ucapan dan perbuatan (tindakan). Secara gradual akan membawa Indonesia Maju dengan SDM yang unggul ( moral dan intelektual ).

Selamat memperingati dan mengimplementasikan nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

SALAM PANCASILA !

(Penulis adalah : Fungsionaris MPN Pemuda Pancasila Bid.Idieologi, politik dan Pemerintahan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *